OTOMOTIF Terhitung sudah ada empat generasi Scoopy yang mengaspal di Indonesia. Dan Scoopy generasi keempat menjadi Scoopy nggak banget—menurut saya—di antara varian yang telah diperkenalkan lebih dulu.Sebagai pecinta motor tua garis keras dan idealis, saya menggunakan motor tua saya untuk digunakan dalam keperluan sehari-hari, seperti main, nganter pacar, pergi ke daerah lain, dan sebagainya.Namun, saya harus menyerah untuk menggunakan motor tua saya. Selain kasihan karena faktor umur yang memang sudah sepuh, pun tetap idealis menggunakannya malah bikin kesusahan. Ada kalanya sangat nggak mungkin menggunakan motor tua untuk membeli galon, gas, dan membawa barang-barang dengan ukuran nggak kecil lainnya. Lha wong beli martabak saja bingung gimana bawanya. Mau nggak mau, saya harus pakai (baca: beli) motor matik agar praktis.Dengan mempertimbangkan bodi klasik namun mesin modern dan fitur kekinian, pandangan saya jatuh pada Honda Scoopy. Yup, Honda sepertinya tahu betul pasar penyuka bentuk klasik cukup loyal di negeri ini. Orang-orang cenderung senang menyimpan masa lalu dan diam-diam mengingatnya ulang. Seperti halnya masa lalu yang terus dilestarikan hingga mengakibatkan kegalauan. Honda Scoopy lahir dengan nilai-nilai retro bagi pecinta motor tua. Tepat satu dekade lalu, skutik yang mempunyai basik mesin sama dengan Honda Beat ini turun aspal. Tapi, yang bikin cukup kaget adalah harganya yang di atas Honda Beat. Pikir saya hanya beda bodi, namun soal tenaga mesin masih sama saja kok bisa lebih mahal? Tapi, dampaknya harga bekas Scoopy masih saja awet nggak begitu anjlok kayak pabrikan sebelah atau Beat itu sendiri.Scoopy sama dengan skutik kebanyakan yang telah duluan hadir, yakni menggunakan diameter velg 14 inci, mesin masih sama saja, cuman perbedaannya hanya di bentuk lampu depan dan sein. Perbedaan lain adalah adanya ACG starter di Scoopy generasi ketiga dan keempat sekarang ini. Itu lho, fiturnya yang bikin starter jadi nggak kerasa dan tiba-tiba saja motor menyala.
OTOMOTIF Tapi, perubahan yang paling signifikan dari Scoopy tahun sebelumnya yakni di bagian lampu dan pemakaian ban ukuran 12 inci. Pabrikan Jepang jarang mengeluarkan motor dengan ukuran ban 12 inci. Pabrikan yang paling sering pakai ban 12 inci adalah pabrikan dari Eropa, contohnya kayak Vespa.Pemakaian ban ini juga yang akhirnya mendasari keinginan selingkuh dari motor tua ke motor muda. Ya, saya memilih Scoopy generasi keempat dengan ban mungil nan gemas. Semacam hasrat ingin punya Vespa, tapi karena nggak bisa, Scoopy pun jadi.Setiap pilihan pastilah ada saja sisi nggak enaknya. Meski menggemaskan, ternyata ukuran ban kecil ini justru bikin repot karena ban cepat gundul. Perpaduan ban kecil dan bodi gambot nggak selaras sama tenaga mesin. Mesin rasanya berat banget hanya sekedar berakselerasi.Lha gimana, Scoopy cuman dibekali mesin dengan racikan bore/stroke, 50/55.1 milimeter, hampir sama dengan Beat yang berkapasitas 110cc. Tapi, Scoopy lebih berat dan nggak ramping. Alhasil, saya yang mini ini akan dibuat kerepotan hanya untuk sekedar mundurin dari area parkir dan dorong motor di kala mogok.Kekurangan Scoopy lainnya yakni soal bahan bakarnya yang borosnya minta ampun. Entah kenapa jika saya bandingkan dengan Mio yang masih karburator kok rasanya sama-sama boros. Sebelas dua belas gitu lah.
OTOMOTIF Bagian yang paling menyebalkan pada motor ini adalah bagian bodi belakang sebelah kiri, bodi yang di atas blok CVT itu lho. Bagian ini rentan banget retak. Apalagi jika ada tukang parkir yang mindahin motor dengan cara yang kasar, main geser-geser tanpa peduli sama motornya. Sudah otomatis bodi samping itu bakal pecah. Dan bodi Scoopy saya pun pecah sampai sekarang. Mau diganti kok ya mahal.Kejadian menjengkelkan itu tak hanya menimpa saya saja. Kayaknya memang kelemahan motor ini ada di bodi belakang bagian kiri, soalnya pengguna lainnya juga mengeluhkan hal yang sama.Memang mau motor baru atau tua, selalu ada saja kekurangannya. Pilihan selingkuh dengan motor yang terbilang muda nyatanya membuat saya, ya gitu-gitu aja. Mau menyesal membeli tapi kok cicilan masih lama. Disyukuri saja lah. Meski polisi mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan sepeda motor saat mudik lebaran 2025, Ari Dwi (23) tetap setia membawa Honda Scoopy-nya berkelana ke luar daerah. Perempuan asal Surabaya itu merasa aman-aman saja saat mengendarai motornya ke Jombang atau Lumajang. Ia pun mengaku nyaman saat pergi berboncengan dengan ayah atau ibunya. “Aku sudah 6 tahun ini mudik pakai Honda Scoopy dari Surabaya ke Jombang, Jombang ke Lumajang, Lumajang ke Surabaya,” kata Ari saat dihubungi Mojok, Selasa (25/3/2025).Dengan kecepatan 60 kilometer per jam, Ari bisa menghabiskan waktu selama 2 jam dari Surabaya ke Jombang dengan jarak sekitar 88 kilometer. Sementara, ia harus menempuh perjalanan selama 5 jam untuk pergi dari Jombang ke Lumajang yang jaraknya lebih dari 170 kilometer.
OTOMOTIF Honda Scoopy adalah sahabat yang menemani perjalan Ari sejak remaja. Ayahnya menghadiahkan motor tersebut saat Ari duduk di bangku kelas 2 SMK. Tepatnya, pada tahun 2017. Sejak itu, Ari mulai memakai Honda Scoopy-nya untuk pergi mudik.Menurutnya, mudik menggunakan sepeda motor membuatnya lebih leluasa pergi ke manapun. Ia tidak perlu diburu waktu jika ingin mampir ke suatu tempat di sela-sela perjalanan mudik lebaran. Apalagi, keluarganya suka sekali mampir ke tempat kuliner.“Entah beli penyetan ikan wader yang ada di Trowulan, Mojokerto atau sesederhana makan es campur di warung pinggir jalan,” ucapnya.Selain itu, ia bisa dengan bebas menggunakan motor di desanya, sebab di sana tidak ada motor yang bisa Ari pakai. Jadi, ia tidak perlu bingung saat ingin membeli sesuatu atau berkegiatan. “Anti ribet dan nggak lama!” ucapnya.Walaupun, ada saja tantangan yang harus ia hadapi di jalan saat menggunakan Honda Scoopy-nya. Mulai dari ban yang kempes karena paku, hingga sulitnya mencari tambal ban. Belum lagi, macet-macetan di jalan terasa melelahkan. Ari juga harus bersaing dengan bus atau truk-truk berukuran besar. “Kalau sudah ada begitu, takut banget. Mending jauh-jauh,” ujar pengendara Honda Scoopy tersebut. Selain harus bermacet-macetan dan bersaing dengan bus, Ari juga harus melewati jalanan menanjak saat pergi mudik lebaran. Kejadian itu ia alami saat pergi mudik dari Lumajang ke Leces, Probolinggo pada tahun 2024. Saat itu, ia harus melewati jalanan menanjak yang berada di sekitar pabrik kertas. Konon, pabrik yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda itu menjadi pabrik kertas terbesar di Jawa, tapi kemudian mengalimi pailit pada 2018, hingga akhirnya dibubarkan di tahun 2023.Sebetulnya, kata Ari, saat melewati jalan yang menanjak, ayahnya siap bergiliran untuk membonceng. Namun, saat itu sedikit berbeda. Ayahnya ingin Ari sesekali mencoba sekaligus berlatih. Padahal, kondisi jalan di sekitar Leces kemarin begitu macet dan chaos.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND





0 Komentar